This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 31 Oktober 2017

ALLAH ADA TANPA TEMPAT TANPA ARAH

""""""ALLAH ADA TANPA TEMPAT TANPA ARAH"""

PENTINGNYA ILMU TAUHID

Sesungguhnya ilmu yang membahas tentang keimanan kepada Allah dengan mengetahui sifat-sifat-Nya merupakan ilmu yang paling mulia, paling tinggi kedudukannya, paling wajib diketahui dan hal pertama yang harus diketahui. Ilmu ini dinamakan ilmu ushul, ilmu tauhid, ilmu kalam dan ilmu aqidah. Rasulullah menyatakan secara tegas bahwa beliau sangat memperhatikan ilmu ini seraya bersabda:
أَنَا أَعْلَمُكُمْ بِاللّهِ وَأَخْشَاكُمْ لَهُ
“Aku adalah orang yang paling mengetahui tentang Allah dari pada kalian dan aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dari pada kalian.” (HR. al-Bukhari)

Maka ilmu ini merupakan ilmu yang paling penting untuk dicapai dan ilmu yang harus diutamakan dan diagungkan.

Allah berfirman:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19)

Di dalam ayat ini disebutkan bahwa perintah mengetahui tauhid lebih didahulukan dari pada perintah istighfar, karena tauhid berkaitan dengan ilmu ushul, sedangkan istighfar berkaitan dengan ilmu furu’ (ilmu tasawwuf). Maka mempelajari ilmu tauhid harus didahulukan dari pada ilmu fiqih, tasawwuf, hadits dan ilmu-ilmu lain. Rasulullah menyatakan bahwa ibadah yang paling utama secara mutlak adalah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah bersabda:
أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ إِيْمَانٌ بِاللّهِ وَرَسُوْلِهِ
“Perbuatan yang paling utama adalah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. al-Bukhari)

Ilmu tauhid juga merupakan di antara syarat sah diterimanya suatu ibadah apapun, baik itu ibadah shalat, puasa, zakat, haji, shadaqah, berdzikir dan lain-lain. Orang yang tidak mengenal Allah melalui sifat-sifat-Nya, maka ibadahnya tidak diterima. Begitu juga orang yang mengenal / meyakini Allah dengan keyakinan yang salah, seperti meyakini Allah berada di langit, maka ibadahnya tidak diterima. Al-Imam al-Ghazali menyatakan:
لَا تَصِحُّ الْعِبَادَةُ إِلَّا بَعْدَ مَعْرِفَةِ الْمَعْبُوْدِ
“Tidak sah ibadah seseorang kecuali setelah dia mengetahui Tuhan yang disembah.”

Di antara point pertama ilmu tauhid adalah Allah ada (wujud). Keberadaan Allah tidak sama dengan keberadaan makhluk. Bukti bahwa Allah ada adalah alam ini dengan segala isinya. Pergantian siang dan malam yang teratur, perjalanan matahari dan bulan yang silih berganti, penciptaan manusia yang sempurna, berfungsinya anggota tubuh dengan baik, butuhnya manusia akan udara serta air dan sebagainya. Peristiwa semua ini tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Hal ini pasti ada yang menciptakan dan yang mengaturnya, yaitu Allah ta’ala. Allah berfirman:
أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوْا فِي أَنْفُسِهِمْ مَا خَلَقَ اللّٰهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى وَإِنَّ كَثِيْرًا مِنَ النَّاسِ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ لَكَافِرُوْنَ
“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan Sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar dengan melihat kepada Tuhannya (di akhirat).” (QS. Ar-Rum: 8)

Allah ada sebelum terciptanya alam, Allah ada sebelum manusia, malaikat, dan jin diciptakan, Allah ada sebelum bumi diciptakan, Allah ada sebelum langit dan arsy diciptakan. Allah-lah yang menciptakan semua makhluk ini. Allah menciptakan makhluk ini untuk menunjukkan kekuasaan-Nya, bukannya Allah butuh kepada makhluk. Jadi Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Allah tidak di langit, Allah tidak di arsy dan Allah tidak di mana-mana. Allah ada tanpa tempat, karena tempat adalah makhluk.
Allah berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
“Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi), dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya.” (QS. Asy-Syura: 11)

Ayat di atas adalah ayat yang paling jelas di dalam al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah tidak menyerupai makhluk-Nya.
Al-Imam Abu Hanifah menyatakan:
أَنَّى يُشْبِهُ الْخَالِقُ مَخْلُوْقَهُ
“Mustahil Allah menyerupai makhluk-Nya.”

Mustahil Allah menyerupai sifat-sifat makhluk. Di antara sifat-sifat makhluk adalah bergerak, diam, berubah, bersemayam, berada di tempat dan arah, duduk, naik, turun dan sebagainya.
Rasulullah bersabda:
كَانَ اللّٰهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُه
“Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya.” (HR al-Bukhari, al-Baihaqi dan Ibn al-Jarud).

Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).
Sayyidina Ali berkata:
إِنَّ الَّذِيْ أَيَّنَ الْأَيْنَ لَا يُقَالُ لَه أَيْنَ وَإِنَّ الَّذِيْ كَيَّفَ الْكَيْفَ لَا يُقَالُ لَه كَيْفَ
“Sesungguhnya yang menciptakan tempat tidak boleh dikatakan bagi-Nya di mana (pertanyaan tentang tempat) dan yang menciptakan sifat-sifat makhluk tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana.” (diriwayatkan oleh Abu al-Muzhaffar al-Asfarayini dalam kitabnya at-Tabshir fi ad-Din, hlm 98).

Imam ath-Thahawi menyatakan:
وَمَنْ وَصَفَ اللّهَٰ بِمَعْنًى مِنْ مَعَانِى الْبَشَرِ فَقَدْ كَفَرَ
“Dan barangsiapa yang mensifati Allah dengan salah satu sifat manusia, maka ia telah kafir.”

Di antara sifat manusia adalah duduk, bertempat, bergerak, diam, berada pada satu arah atau tempat, berbicara dengan huruf, suara dan bahasa.
Imam Ahmad ar-Rifa’i menyatakan di dalam kitabnya “al-Burhan al-Muayyad”:
صُوْنُوْا عَقَائِدَكُمْ مِنَ التَّمَسُّكِ بِظَاهِرِ مَا تَشَابَهَ مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ فَإِنَّ ذٰلِكَ مِنْ أُصُوْلِ الْكُفْرِ
“Jagalah aqidah kalian dari berpegangan kepada zhahir ayat al-Qur’an dan Hadits Nabi yang mutasyabihat sebab hal ini merupakan salah satu pangkal kekufuran.”

Contoh ayat mutasyabihat adalah firman Allah surat Thaha: 5: اَلرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَي Ayat ini tidak boleh dipahami makna zhahir. Karena kata istawa mempunyai banyak arti, di antaranya duduk, menetap, lurus, matang, menguasai, dan lain-lain. Makna yang sesuai bagi Allah adalah menguasai (al-Qahhar) dan Allah menamakan Dzat-Nya dengan al-Qahhar, sebagaimana dinyatakan di dalam surat Yusuf: 39: اَللّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ. Oleh karena itu, kaum muslimin menamakan anak-anak mereka dengan Abdul Qahir dan Abdul Qahhar. Tidak ada seorang pun yang menamakan anak-anak mereka dengan Abdul Jalis atau Abdul Qa’id (yaitu hamba dari dzat yang duduk).
Sayyidina Ali berkata:
إِنَّ اللّهَ خَلَقَ الْعَرْشَ إِظْهَارًا لِقُدْرَتِهِ وَلَمْ يَتَّخِذْهُ مَكَانًا لِذَاتِهِ
“Sesungguhnya Allah menciptakan arsy untuk menampakkan kekuasaan-Nya dan Dia tidak menjadikannya sebagai tempat bagi Dzat-Nya.” (Diriwayatkan oleh Abu Manshur al-Baghdadi di dalam kitab al-Farq bayna al-Firaq)

Begitu juga al-Imam Malik menyatakan:
اَلرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى كَمَا وَصَفَ نَفْسَهُ وَلَا يُقَالُ كَيْفَ، وَكَيْفَ عَنْهُ مَرْفُوْعٌ
“Allah yang maha Rahman istawa terhadap arsy sebagaimana Dia telah mensifati Dzat-Nya, tidak boleh dikatakan bagi-Nya sifat-sifat makhluk dan sifat-sifat makhluk bagi-Nya mustahil.” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi di dalam kitab al-Asma’ wa ash-Shifat)

Imam Ahmad ar-Rifa’i berkata:
غَايَةُ الْمَعْرِفَةِ بِاللّٰهِ اْلإِيْقَانُ بِوُجُوْدِه تَعَالٰى بِلَا كَيْفٍ وَلَا مَكَانٍ
“Batas akhir pengetahuan seorang hamba tentang Allah adalah meyakini bahwa Allah ta’ala ada tanpa bagaimana (sifat-sifat makhluk) dan ada tanpa tempat.”

Inilah keyakinan Rasulullah, para sahabat, para imam mujtahid dan mayoritas kaum muslimin. Ulama’ tasawwuf yang telah mencapai derajat tinggi keyakinannya adalah Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Tidak lantas karena sudah mencapai derajat tinggi, mereka bisa membayangkan Allah, atau mereka mengetahui hakekat Allah.
Imam Ahmad ibn Hanbal dan Imam Tsauban ibn Ibrahim Dzun Nun al-Mishri berkata:
مَهْمَا تَصَوَّرْتَ بِبَالِكَ فَاللّٰهُ بِخِلَافِ ذٰلِكَ
“Apapun yang terlintas dalam pikiranmu tentang Allah, maka Allah tidak seperti itu.”

Allah adalah Tuhan, Allah tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya. Allah bukan benda dan bukan sifat benda. Oleh karena itu, Allah tidak bisa dibayangkan.
Imam Abu Bakar ash-Shiddiq berkata:
اَلْعَجْزُ عَنْ دَرَكِ اْلإِدْرَاكِ إِدْرَاكُ وَالْبَحْثُ عَنْ ذَاتِه كُفْرٌ وَإِشْرَاكُ
“Pengetahuan bahwa pemahaman seseorang tidak mampu untuk sampai mengetahui hakekat Allah adalah keimanan, sedangkan mencari tahu tentang hakekat Allah, yakni membayangkan-Nya adalah kekufuran dan syirik.”

Seseorang yang meyakini bahwa Allah ada, yang ada-Nya tidak sama dengan adanya makhluk, maka hal ini adalah keimanan yang benar. Sedangkan mencari tahu hakekat Allah sehingga membayangkan-Nya seperti makhluk, maka hal ini yang menyebabkan dia menjadi keluar dari agama Islam.

Inilah aqidah Islam yang diajarkan oleh semua para nabi, dari Nabi pertama yaitu Nabi Adam sampai nabi terakhir, Nabi Muhammad. Semua nabi keimanannya sama, Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah.

Semoga Allah senantiasa mengaruniakan
hidayah, taufiq dan inayah-Nya kepada kita semua sehingga kita dikuatkan dalam memegang teguh ajaran Ahlussunnah Waljama’ah dan semoga kita dimudahkan dalam melaksanakan ajaran Islam dengan mudah, aamiin.

Jumat, 27 Oktober 2017

Sifat Wajib Bagi Allaah Bagian ke-3

*KISWAH (Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah)*
Oleh : _Aswaja NU Center Kec. Dawarblandong Kab. Mojokerto_

Sifat-sifat Wajib bagi Allaah
3. _Baqaa'_ (Kekal)

Wajib (pasti) bagi Allaah bersifat _baqaa’,_ yang bermakna bahwa Dia tidak tertimpa kepunahan, atau tidak ada akhir bagi keberadaan-Nya. Karena ketika telah tetap bagi-Nya sifat _qidam_ (ada tanpa permulaan) secara akal, maka wajib (pasti) bagi-Nya sifat _baqaa’_ (kekal). Seandainya mungkin bagi-Nya ketiadaan (tidak kekal), niscaya akan gugur dari-Nya sifat _qidam_ (tiada bermula).  Dan ketiadaan sifat _qidam_ dari-Nya adalah mustahil. Karenanya, menjadi gugurlah kemungkinan _fanaa’_ (punah, tidak kekal) dari-Nya. Juga, seandainya mungkin berlaku bagi-Nya ketiadaan (tidak kekal) sebagaimana hal itu boleh berlaku pada para makhluk, niscaya akan berlaku pula bagi-Nya sifat-sifat yang berlaku pada makhluk. Sedangkan sesuatu yang demikian, maka ia _haadits_ (ada setelah tiada).

Allaah adalah satu-satunya _al-Baaqi_ (Maha Kekal) yang mustahil bagi-Nya kepunahan. Tidak ada yang kekal dengan tanpa dikekalkan oleh yang lain, kecuali Allaah. Sebagaimana tidak ada yang ada, dengan tanpa diwujudkan oleh yang lain, kecuali Allaah. Adapun kekekalan surga dan neraka, keduanya tidak kekal dengan sendirinya. Kekekalan keduanya adalah karena dikekalkan oleh Allaah. Karena Allaah telah menghendaki keduanya kekal, maka keduanya kekal dan tidak akan mengalami kepunahan. Dilihat pada dzat (kemakhlukan)nya, surga dan neraka secara akal mungkin saja punah, karena keduanya _haadits_ (ada setelah tiada). Dan sesuatu yang _haadits_ tidak mungkin kekal dengan sendirinya.

Maka telah menjadi jelas bahwa seluruh makhluk (yang ada setelah tiada) sama dalam hal semuanya didahului oleh ketiadaan, berdasarkan dalil naqli dan aqli. Juga seluruhnya sama dalam hal bahwa semuanya pasti tidak kekal secara akal.

Dalil naqli atas sifat _baqaa’_ adalah firman Allaah _ta’aalaa_ :
 (وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ) [سورة الرحمن 27]
Maknanya: _“Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang memiliki keagungan derajat dan kemuliaan”_ (QS ar-Rahmaan: 27)

Juga firman Allaah _ta’aalaa_ :
(كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ ۚ ) [سورة القصص 88]
Maknanya: _“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali kekuasaan Allah”_ (QS al-Qashash: 88).
Imam al-Bukhari menegaskan dalam Kitab _Shahih_ nya, bahwa yang dimaksud _“wajhahu”_ dalam ayat tersebut adalah _“mulkahu”_ (kekuasaan-Nya). Jadi yang dimaksud bukanlah wajah atau muka yang merupakan anggota badan, karena Allaah Maha Suci dari anggota badan.

Disebutkan dalam hadits riwayat at-Tirmidzi dan lainnya dari Sahabat Abu Hurairah, bahwa di antara _al-Asmaa’ al-Husnaa_ adalah _al-Qayyuum, al-Baaqii, al-Waarits_ dan _al-Aakhir_ , yang semuanya bermakna bahwa Allah Maha Kekal dan tidak ada akhir bagi keberadaan-Nya.

Semoga bermanfaat.

Selasa, 17 Oktober 2017

MUTIARA HIKMAH

*سبيل الجنة*

🌹 *MUTIARA HIKMAH*🌹

✨💫♡☆ *من حلو الكلام*


🌴 حكي عن الحسن البصري رحمه الله تعالى أنه قال :

Diriwayatkan dari Imam al-Hasan al-Bishri -semoga Allah ta'ala melimpahkan rahmat kepadanya-, ia berkata:

◽ *"علمتُ أنّ رزقيَ لا يأكله غيري فاطمأن قلبي ،*

_Aku mengetahui bahwa rezkiku tidak mungkin dimakan oleh orang selain aku, maka tenanglah hatiku_.

◽ *وعلمتُ أنّ عملي لا يقوم به غيري فاشتغلتُ به وحدي ،*

_Aku mengetahui bahwa amalku tidak mungkin dikerjakan oleh orang lain, maka aku menyibukkan diri dengan amal shaleh_

◽ *وعلمتُ أنّ الله مطّلع عليّ ، فاستحييت أن يراني عاصيًا ،*

_Aku mengetahui bahwa Allah maha mengetahui segala perbuatannku, maka aku malu jika Dia melihat diriku dalam keadaan melakukan maksiat._

◽ *وعلمت أنّ الموت ينتظرني ، فأعددتُ الزاد للقاء ربي ".*

_Dan aku mengetahui bahwa kematian itu menungguku, maka akupun mempersiapkan diri dengan bekal (iman dan amal2 shaleh) untuk menghadapi kematian itu._

---------------------------------☆♡

*اللهم أصلحنا وأصلح بنا*

fb.com/Sabil.al.Jannat


🌺 _ilmu ahlussunnah adalah kunci masuk surga_🌺
علم أهل السنة مفتاح الجنة



🌹🌹🌹

Senin, 16 Oktober 2017

KEUTAMAAN MENCARI ILMU AGAMA

Keutamaan orang yang mengaji (talaqqi) ilmu agama


Ilmu agama memiliki kedudukan yang tinggi dan agung bagi orang yang mempelajarinya (secara talaqqi di hadapan guru; ahli ilmu wa al-ma'rifat yang tsiqah) maupun orang yang mengajarkannya

📖 Hadir di majlis ilmu untuk mengaji (talaqqi) satu ayat al-Qur'an lebih besar pahalanya dibanding orang shalat sunnah 100 (seratus) raka'at.

📖 Adapun hadir di majlis ilmu untuk mengaji (talaqqi) satu bab dari bab-bab ilmu agama lebih utama; yakni lebih besar kadar pahalanya dibanding pahala orang shalat sunnah 1000 (seribu) raka'at.

===========================

_Mari kita perbanyak bershalawat-salam untuk Rasulullah ﷺ dengan tartil...!!!_

🌺علم أهل السنة مفتاح الجنة🌺

Minggu, 15 Oktober 2017

MUSIBAH DIPAGI HARI

Musibah di Pagi Hari

Ia bangun tidur di pagi hari...

Nafsunya mengajaknya untuk membuka handphone...

Namun ia berkata pada dirinya : tidak, aku akan baca al Qur'an atau beberapa wirid pagi hari.

Nafsu kembali menggodanya : mulailah pagimu dengan buka hp. Baca dulu pesan-pesan yang masuk, baca berita-berita terkini, supaya hati dan pikiranmu tidak sibuk memikirkan smartphone-mu ketika engkau baca al Qur'an atau wirid pagi. Jika pikiranmu telah jernih dan fokus, maka mulailah baca al Qur'an atau wirid.
Lalu pandangan matanya terus lekat pada layar hp. Mula-mula ia buka whatsapp, lalu facebook, setelah itu twitter, lalu... lalu...

Mulailah pikiran dan hatinya tertaut dan tersibukkan dengan hal-hal yang pada mulanya tidak ada pada keduanya.

Waktu terus berlalu...

Itulah tipu muslihat hawa nafsu yang terus menerus mengajak pada keburukan, atau ia adalah trik licik Iblis dan bala tentaranya.

Waspadalah !!!

Sabtu, 14 Oktober 2017

KISAH YANG MENGAGUMKAN

KISAH YANG MENGAGUMKAN
SEMOGA KITA DAPAT MENGAPLIKASIKAN

روي عن سهلٍ التسـتري أنه كان له جار مجوسي،
Diriwayatkan dari Sahl at-Tasturi bahwa beliau mempunyai seorang tetangga yang beragama Majusi.

 فانفتح خلاء المجوسي إلى دار سهل، وصار القذر يدخل بيت سهل ويلوثه، فبقي سهل لفترة يزيل ما يجتمع من القذر في بيته حتى مرض،
Pada suatu ketika, lubang toilet rumah seorang Majusi tersebut terbuka menuju ke rumah Sahl, maka kotoran itu menjadi masuk ke rumah Sahl dan mengotorinya. Maka beberapa waktu lamanya Sahl senantiasa menghilangkan kotoran yang sudah terkumpul di rumahnya sehingga beliau sakit. 

فدعا المجوسي وأخبره بالأمر،
 وقال له: إني أخشى أن لا يتحمل ورثتي ذلك الأذى كما كنت أتحمله فيخاصمونك !
Dalam kondisi sakitnya inilah (ketika beliau merasa ajal akan tiba) beliau memanggil tetangga Majusi tersebut dan memberitahukan permasalahan ini. Beliau mengatakan kepadanya: Sesungguhnya aku merasa takut terhadap keturunanku yang tidak akan kuat menanggung kotoran ini sebagaimana aku menanggungnya, maka hal ini akan menyebabkan dia akan bertengkar denganmu. 

فتعجب المجوسي من صبر سهل على هذا الأذى العظيم ثم قال له: تعاونني بذلك هذه المدة الطويلة وتصبر علي، وأنا على غير دينك!!!
Maka tetangga Majusi tersebut merasa kagum dengan kesabaran Sahl atas gangguan yang sangat besar ini, kemudian dia berkata kepada beliau: Engkau telah menolong aku dengan kejadian ini begitu lama dan bersikap sabar terhadap aku, padahal aku tidak seagama denganmu. 

وقال له: مُدَّ يدك، مُدَّ يدك ..
 فمد سهل يده، فصافحه وقال أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدًا رسول الله
ثم مات سهل رضي الله عنه .
Lalu dia berkata kepada beliau: Ulurkan tanganmu, ulurkan tanganmu. Maka Sahl mengulurkan tangannya, lalu dia menyalaminya dan mengucapkan syahadat (ingin masuk agama Islam):
أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدًا رسول الله
Kemudian, Sahl wafat -semoga Allah meridhainya, aamiin. 

Inilah salah satu di antara contoh bertetangga dengan baik, meskipun tetangga tidak seagama, meskipun tetangga berbuat salah, maka kita harus berbuat baik.

Semoga Allah memudahkan kita untuk meneladani / mengikuti kehidupan Sahl at-Tasturi di dalam kehidupan bermasyarakat. Aamiin.

Jumat, 13 Oktober 2017

Hujjah ALLAH ADA TANPA TEMPAT

📄Hujjah Ahlussunnah wal-Jama'ah:
*Allah Ada Tanpa Tempat*
الله موجود بلا مكان

===========================

🔘 قال الله تعالى:
{فلا تضربوا لله الأمثال}
-قرءان كريم-

Maknanya: "Janganlah kalian membuat serupaan-serupaan bagi Allah"

✔ Janganlah kalian menyerupakan Allah, janganlah kalian menyamakan Allah dengan sesuatupun dari ciptaan-Nya.

✔ Sesungguhnya Allah tidak ada serupaan, tidak ada kesamaan bagi-Nya, baik pada Dzat (yakni hakikat-Nya) maupun pada segala sifat-Nya.


📚ilmu ahlussunnah adalah kunci masuk surga📚
علم أهل السنة مفتاح الجنة


✍🏻silahkan share...
semoga bermanfaat.